Kemarau Dua Bulan Ancam Sawah Trinsing Kiri, DPRD Barito Utara Desak Solusi Irigasi Permanen

Anggota DPRD Barito Utara Ardianto meninjau kondisi lahan pertanian di Trinsing Kiri yang terdampak kekeringan. DPRD mendorong pembangunan sumber air alternatif agar petani tidak terus bergantung pada pasokan DAM saat musim kemarau.
banner 468x60

MUARA TEWEH – Kemarau yang berlangsung hampir dua bulan mulai mengancam keberlangsungan pertanian di wilayah Trinsing Kiri, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Utara. Sejumlah petani kini kesulitan mendapatkan pasokan air setelah aliran dari DAM Trinsing tidak lagi masuk ke saluran primer induk.

Kondisi tersebut berdampak pada saluran sekunder hingga tersier yang ikut mengering. Jika tidak segera ditangani, kekurangan air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi dan meningkatkan risiko gagal panen.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Anggota DPRD Barito Utara, Ardianto, turun langsung meninjau kondisi lahan pertanian setelah menerima laporan dari pengurus Kelompok Tani (Poktan) Maju Jaya Trinsing Kiri. Peninjauan dilakukan Kamis (20/8/2026), setelah dirinya mengikuti Rapat Paripurna II Masa Sidang III.

“Setelah mendapat laporan tadi malam dari pengurus kelompok tani Maju Jaya Trinsing Kiri, saya langsung turun ke lapangan. Setelah melihat kondisi di lapangan, ternyata benar tanaman padi mereka mengalami kekeringan akibat kemarau yang sudah berlangsung kurang lebih dua bulan,” kata Ardianto saat melakukan peninjauan lokasi.

Menurut Ardianto, para petani sebelumnya berupaya mencari sumber air alternatif dengan mengambil air dari parit galian jalan hauling batubara Km 6. Namun, langkah tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh petakan sawah.

Situasi itu menunjukkan bahwa persoalan air untuk pertanian tidak cukup hanya ditangani melalui langkah darurat. Diperlukan infrastruktur sumber air alternatif yang dapat digunakan ketika pasokan dari bendungan tidak mampu mengalir ke jaringan irigasi.

Sebagai langkah sementara, Ardianto menghubungi pimpinan PT BIMA untuk meminta bantuan pengisian air ke saluran tersier. Perusahaan kemudian merespons dengan mengerahkan unit WT penyiraman untuk membantu memenuhi kebutuhan air petani.

“Alhamdulillah, pihak pimpinan PT BIMA merespons cepat permintaan kita untuk membantu para petani yang ada di Trinsing Kiri,” ujarnya.

Meski bantuan tersebut dapat membantu menghadapi kondisi saat ini, Ardianto mendorong Pemerintah Kabupaten Barito Utara melalui Dinas Pertanian agar menyiapkan solusi yang lebih berkelanjutan.

Salah satu langkah yang dinilai mendesak adalah pembangunan sumur bor di sejumlah kawasan pertanian yang rawan mengalami kekeringan. Infrastruktur tersebut dinilai dapat menjadi sumber air alternatif ketika debit air bendungan maupun jaringan irigasi tidak mencukupi.

“Pembangunan sumur bor ini penting karena sangat dibutuhkan oleh para petani. Pertama, untuk mengairi tanaman padi dan menyiram tanaman sayuran,” jelas Ardianto

Menurutnya, perhatian tidak hanya diperlukan di Trinsing Kiri. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di Trinsing Kanan dan Trahean, terutama ketika distribusi air dari dam tidak mampu menjangkau jaringan primer, sekunder hingga tersier.

Ardianto berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret sebelum kondisi tanaman semakin memburuk. Bagi petani, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mencegah kerugian akibat gagal panen.

Ia menilai penanganan kekeringan perlu dilakukan secara cepat sekaligus dibarengi perencanaan infrastruktur jangka panjang, sehingga persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *