Mengenang Panglima Batur: Pejuang Banjar Berdarah Dayak yang Tutup Usia dengan Dua Kalimah Syahadat

Panglima Batur
banner 468x60

Panglima Batur dari suku Dayak Bakumpai yang telah memeluk Islam adalah figur penting dalam Perang Banjar dan Perang Barito, yang berlangsung dari 1859 hingga 1905. Ia memimpin perlawanan di barisan Sultan Muhammad Seman, meneruskan semangat perjuangan Pangeran Antasari melawan penjajahan Belanda.

Latar Belakang & Perjuangan

Asal-usul & Loyalitas Lahir pada tahun 1852 di Buntok Baru (sekarang Barito Utara), Panglima Batur dikenal sebagai panglima berjiwa kesatria pemberani, cerdik, dan berpengaruh dalam suku Dayak.

Pertempuran Bersejarah

Ia memimpin pasukan setia Sultan Seman di benteng Sungai Manawing hingga Sultan gugur dalam serangan Belanda pada Januari 1905 yang dipimpin Letnan Christofel—pengalaman mereka sebelumnya di medan Aceh menjadi dasar strategi Belanda.

Tipu Muslihat Penjajah

Belanda menggunakan tekanan terhadap keluarganya untuk menjebak Panglima Batur saat ia hadir dalam upacara adat keluarga di kampung Lemo. Alhasil, beliau ditangkap pada 24 Agustus 1905, lalu diarak di Banjarmasin sebagai “pemberontak” sebelum dieksekusi hukuman mati setelah dua minggu ditahan.

Permintaan Akhir: Dua Kalimah Syahadat

Salah satu momen paling menggetarkan: sebelum dihukum gantung pada 15 September 1905, Panglima Batur hanya meminta dibacakan dua kalimah syahadat untuknya. Ini adalah simbol iman yang teguh, menyatakan pengakuan kepada Tuhan dan nabi-Nya hingga akhir hayatnya. Ia wafat sebagai syuhada, bukan hanya bagi iman, tapi bagi bangsa dan tanahnya.

Jenazahnya awalnya dimakamkan di belakang Masjid Jami’ Banjarmasin, namun sejak 21 April 1958 dipindahkan ke kompleks Makam Pahlawan Banjar sebagai bentuk penghormatan atas jasanya.

Warisan & Status Pahlawan

Sejak 2010, pemerintah Kabupaten Barito Utara telah mengusulkan Panglima Batur sebagai Pahlawan Nasional, namun hingga kini status ini belum resmi diberikan. Sosoknya lebih dikenal di level lokal, terutama masyarakat Hulu Sungai dan pedalaman Barito, di mana namanya masih hidup dalam cerita rakyat dan pengingat perjuangan lintas etnis dan agama.

Refleksi Akhir

Panglima Batur adalah bukti nyata bahwa perjuangan membela tanah air tidak mengenal batas suku maupun latar budaya. Ia meninggal sebagai figur yang bermartabat—menutup kehidupannya dengan pengakuan iman yang terakhir.

Permintaan kalimah syahadat menjadi pengingat bahwa sejatinya, perjuangan tidak hanya soal fisik dan strategi, tetapi keyakinan dan keteguhan hati. Di era sekarang, generasi muda perlu diingatkan kembali akan semangat seperti itu: berani membela kebenaran, berlandaskan iman, dan menjunjung tinggi persatuan.

Semoga kisah beliau terus dikenang, diajarkan, dan menjadi teladan—bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang memadukan keberanian dan iman dalam satu nafas perjuangan.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *