MUARA TEWEH – Setelah sekian lama memilih diam karena tekanan dan pembatasan, pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee akhirnya berbicara jujur mengenai kondisi konservasi di Indonesia serta perjalanan panjang 27 tahun yang penuh tantangan. Melalui video terbarunya, ia mengungkapkan bagaimana perjuangan menjaga alam sering kali berjalan sendiri tanpa dukungan penuh dari institusi terkait.
Menurutnya, berinvestasi dalam pelestarian alam adalah investasi untuk masa depan manusia sendiri masa depan yang aman, nyaman, dan tidak dibayang-bayangi bencana. Sebaliknya, investasi pada kegiatan perusakan alam hanyalah menunda datangnya malapetaka, seperti yang kini dialami saudara-saudara di Sumatera.
27 Tahun Berjuang, Sering Kali “Dicuekin”
Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa selama hampir sembilan tahun terakhir, dialog antara Kalaweit dan Kementerian Kehutanan nyaris terputus.
Izin mereka tidak diperpanjang, aktivitas dibatasi, dan bahkan unggahan mengenai konservasi di media sosial pernah diminta untuk ditahan.
“Sembilan tahun kami bukan hanya dicuekin, kami ditekan,” ujarnya.
Namun situasi mulai berubah dalam satu tahun terakhir. Komunikasi kembali terbuka, dan Kalaweit akhirnya dapat memberikan masukan secara langsung terkait kondisi hutan, kawasan konservasi, serta strategi pengawasan menggunakan pesawat ringan.
Menteri Kehutanan Turun Langsung: Melihat Kerusakan dari Atas
Dalam momen yang disebut sebagai “yang pertama kali terjadi dalam sejarah Kalaweit”, Menteri Kehutanan datang langsung dan melihat dari udara kondisi lapangan mulai dari lubang tambang batu bara yang tak direklamasi, sawit yang masuk kawasan hutan, hingga habitat orang utan yang makin terhimpit.
“Mayoritas lubang tambang tidak direklamasi. Ada satu yang ditutup tapi tidak ditanami. Kita tunjukkan semua secara terbuka,” jelasnya.
Ia juga memperlihatkan hutan sekunder yang sempat terbakar pada 2015 seluas 400 hektare dan bagaimana Kalaweit selama ini melakukan pemulihan dengan menjatuhkan buah serta biji-bijian dari pesawat untuk membantu regenerasi.
Komunikasi yang Humanis & Terbuka Harapan Baru
Dialog empat mata antara pihak Kalaweit dan Menteri Kehutanan menjadi titik penting. Untuk pertama kalinya, masukan teknis, kritik, strategi dan harapan dapat disampaikan secara jujur tanpa tekanan.
“Tentu saja ini melahirkan sedikit optimisme bagi kami. Fungsi NGO bukan hanya teriak, tetapi juga memberi solusi. Itu yang kami lakukan kemarin.”
Ia menegaskan bahwa kerusakan alam terjadi selama beberapa dekade sehingga tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat. Karena itu, ia berharap semua pihak termasuk pemerintah daerah, pusat, aparat penegak hukum, dan masyarakat dapat terlibat dalam proses pemulihan.
“Alam sudah cukup mengingatkan kita akhir-akhir ini, Kalau Yayasan Kalaweit dibutuhkan, kami siap membantu selama arahnya benar-benar untuk konservasi.” ujarnya menutup pesan humanisnya.








