Bagi sebagian besar warga Muara Teweh, nama “Foto Anggrek” atau dikenal juga dengan studio “Aci” bukanlah tempat yang asing. Bangunan tua berkarat dengan papan nama usang yang masih berdiri kokoh di tengah kota itu menyimpan begitu banyak kenangan terutama bagi mereka yang pernah berfoto masa kecil di sana.
Dulunya, studio ini adalah satu-satunya tempat andalan warga untuk mencetak momen-momen berharga: mulai dari foto bayi, ulang tahun, ijazah sekolah, hingga potret keluarga. Banyak anak-anak kecil datang mengenakan baju terbaik mereka, sebagian bahkan dipakaikan jas atau kebaya pinjaman dari studio untuk keperluan foto formal.
Seiring waktu dan kemajuan teknologi digital, aktivitas studio ini perlahan meredup. Namun, bangunannya tetap menjadi penanda sejarah kecil di hati masyarakat. Setiap melewati gedung tua tersebut, banyak yang tak kuasa menahan senyum teringat masa kecil saat menunggu hasil cetak foto selama beberapa hari, atau saat melihat hasil potret tergantung di etalase kaca studio sebagai contoh.
Salah satu warga, Ibu Warti (46), mengungkapkan, “Dulu saya selalu bawa anak-anak ke sana tiap Lebaran buat foto keluarga. Sekarang lihat bangunannya, langsung ingat waktu anak-anak masih kecil.”
Kini, meskipun fisik bangunan mulai termakan zaman dan jarang digunakan, studio ini tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Muara Teweh. Di era digital, tempat ini menjadi simbol nostalgia dan pengingat bahwa sebelum kamera ponsel mengambil alih, momen-momen kecil pernah diabadikan secara istimewa melalui lensa di studio sederhana ini.








