Di tengah hingar-bingar politik lokal, satu kelompok tetap menjadi kunci perubahan namun kerap diabaikan: pemuda. Ironisnya, mereka yang paling terdampak oleh kebijakan jangka panjang justru sering dijadikan komoditas politik semata-dilibatkan hanya sebagai penggembira kampanye, bukan penggerak perubahan.
Padahal, sejarah bangsa ini lahir dari nyali dan nalar kaum muda. Mereka turun ke jalan, melawan ketidakadilan, mengguncang kekuasaan. Tapi kini, dalam era demokrasi elektoral, banyak dari mereka bungkam-lebih sibuk menjadi penonton layar ponsel ketimbang ikut menentukan arah masa depan daerahnya.
Politik hari ini kian terasa seperti panggung sandiwara: penuh janji, minim bukti. Di tengah itu, suara pemuda seharusnya menjadi palu godam yang memecah kebekuan. Tapi apakah mereka benar-benar paham kekuatan suara mereka?
Kita tak butuh pemuda yang sekadar ikut-ikutan, bersuara hanya karena tren. Kita butuh pemuda yang kritis, yang tak mudah silau oleh baliho besar, senyum palsu, atau orasi yang penuh retorika kosong. Pemuda harus jadi pelacak rekam jejak, bukan pengikut narasi.
Karena satu hal pasti: Jika pemuda lengah dalam memilih, maka kelak mereka akan menjadi generasi yang mewarisi kesalahan. Dan lebih buruknya, menjadi korban dari keputusan yang tak pernah mereka perjuangkan.
Tugas pemuda hari ini bukan hanya memilih. Tugasnya adalah menguji. Siapa calon yang sungguh paham persoalan rakyat? Siapa yang hadir saat ada musibah, bukan hanya saat masa kampanye? Siapa yang berani menyentuh akar masalah, bukan sekadar memoles permukaan?








