MUARA TEWEH – Sorotan tajam disampaikan Ketua Komisi III DPRD Barito Utara dari Fraksi Karya Indonesia Raya (F-KIR), H. Tajeri, terkait kondisi pendidikan dan layanan kesehatan di sejumlah wilayah Barito Utara. Dalam pendapat akhir Fraksi terhadap APBD 2026, ia menegaskan bahwa masih banyak sekolah dalam kondisi tidak layak, bahkan jam belajar siswa terlalu singkat.
“Ada sekolah yang masuk pukul 08.00 dan pulang jam 10.00. Bagaimana anak-anak kita bisa cerdas kalau belajarnya hanya dua jam?” ujarnya, Senin (1/12/2025).
Ia juga meminta perbaikan segera terhadap rumah guru dan penjaga sekolah yang tidak layak huni.
Di sektor kesehatan, Tajeri menilai pelayanan masih minim. Ada Puskesmas tanpa dokter, Pustu jarang buka, ruang kerja tanpa AC, serta tenaga medis yang terbatas.
“Kami mendorong Pemkab agar menguliahkan dokter umum menjadi spesialis dengan ikatan kerja tegas. Daerah ini butuh tenaga medis berkualitas,” tegas Tajeri.
Selain itu, masalah pertanian juga menjadi sorotan. Kelangkaan pupuk, minimnya bibit, dan belum difungsikannya Rumah Potong Hewan (RPH) disebut merugikan petani dan daerah.
“RPH sudah lama ada, tapi tak kunjung berfungsi. Padahal bisa menambah PAD dan membantu petani. Ini harus jadi prioritas,” tambahnya.
Ia berharap APBD 2026 menjadi momentum evaluasi total pelayanan publik agar masyarakat benar-benar merasakan manfaat pembangunan.








