MUARA TEWEH — Keluhan masyarakat terus bermunculan terkait melonjaknya harga Pertalite hingga Rp15 ribu dan Pertamax yang mencapai Rp17 ribu per liter, disertai kelangkaan BBM di sejumlah wilayah Barito Utara. Kondisi ini memicu keresahan, khususnya bagi pekerja harian, petani, sopir angkutan, dan pengemudi ojek online yang menggantungkan mata pencaharian pada ketersediaan bahan bakar.
Warga mengaku sering kesulitan mendapatkan BBM di SPBU karena antrean panjang atau kondisi SPBU yang tutup. Akibatnya, pembelian dari pedagang eceran menjadi pilihan terakhir meskipun dengan harga jauh lebih tinggi dari harga resmi.
“Kami bingung, SPBU kadang tutup, kadang antre panjang sekali. Di kios-kios harga sudah Rp15 ribu, padahal ini Pertalite, bukan Pertamax,” ujar Anton, warga Muara Teweh saat ditemui di lokasi pembelian BBM eceran, Sabtu malam (22/11/2025).
Ojek Online: Pendapatan Tidak Sebanding, Bensin Habis Uang Hilang
Keluhan serupa disampaikan Ketua Komunitas Ojek Online Muara Teweh, Gojek Independent Barito, Lady Sky, yang mengatakan bahwa krisis BBM ini berdampak langsung pada penghasilan anggotanya.
“Harga minyak naik, terpaksa kami menaikkan ongkos kirim. Tapi tidak semua pelanggan setuju. Kalau kami tidak ambil order, kami rugi. Mau beli bensin pun sulit,” jelas Lady Sky.
Menurutnya, beberapa pengemudi bahkan memilih istirahat sementara karena biaya operasional sudah tidak sebanding dengan pendapatan harian.
Masyarakat berharap Pemerintah Daerah dan Pertamina segera memberikan solusi dengan menambah pasokan BBM ke SPBU serta melakukan pengawasan distribusi di lapangan.








